Banjir yang melanda kota Samarinda beberapa hari ini sepertinya bukan suatu musibah bagi sebagian masyarakat. Itu dapat terlihat dari antusisme masyarakat yang memanfaatkan kawasan banjir sebagai sarana hiburan seperti berenang.
Kemarin (30/11/2008, red) pada kawasan jalan Remaja dan sekitarnya dipenuhi oleh ratusan masyarakat yang bersiap-siap menikmati banjir. Kebanyakan dari mereka membawa alat-alat untuk berenang, seperti ban pelampung, perahu karet, hingga baju renang.
Saat kami berkunjung di kawasan tersebut kami melihat canda tawa yang tersirat pada wajah mereka dapat menggambarkan betapa mereka sangat menikmati banjir yang bagi sebagian orang lagi adalah sebuah musibah.
Ditengah-tengah suka ria mereka, terlihat beberapa orang tetap membuang sampah sembarangan di kawasan yang telah dipenuhi air tersebut. Sungguh hal yang memprihatinkan.
Jika ditelaah lebih lanjut, sebenarnya banjir adalah sebuah musibah yang seharusnya dipikirkan bersama untuk mencari solusi yang tepat dalam mengatasinya. Ketika masyarakat menikmati banjir, maka sama artinya dengan musibah yang menjadi anugrah. Sehingga selanjutnya sulit sekali dalam mengajak partisipasi masyarakat untuk mengatasi permasalahan ini. Toh, mereka tidak merasakan dampak yang signifikan.
Yah, memang sulit sekali merubah pola pikir masyarakat yang kian sempit dalam memandang suatu musibah sebagai hal yang biasa terjadi. Sudah saatnya kita bangkit dari persepsi ini. Untuk saat ini, mungkin mereka masih bisa menikmati banjir besar ini, namun ketika banjir itu berubah menjadi sesuatu musibah yang lebih menakutkan, akankah mereka masih bisa tersenyum dan bercanda??