Pernahkah kita mendengar bahwa perbedaan antara hidup dan mati itu sangat tipis sekali, bahkan lebih tipis dibandinkan sehelai benang. Kita pun sadar jika ungkapan itu benar adanya, namun kita berusaha untuk memungkiri hal tersebut. Bagaimana bencana tsunami merenggut begitu banyak korban jiwa, yang saat itu pasti tidak menduga banhwa ajal akan menjemput sebegitu cepat. Bagaiman gempa di Yogyakarta menewaskan orang-orang yang saat itu mungkin sedang berbahagia.
Ada sebuah cerita tentang saya. Pada suatu hari yang amat panas, saya tergesa-gesa untuk pergi ke kampus dengan mengendarai motor. Tergesa-gesa bukan karena suatu keterlambatan melainkan tergesa-gesa karena cuaca hari itu teramat panas hingga kulit saya rasanya melepuh. Dengan tekhnik selip menyelip kendaraan lain, saya berusaha untuk segera sampai ke kampus serta mencoba menghindari rasa sakit dikulit. Di saat tersebut saya tidak memperhatikan keadaan sekitar, ternyata didepan saya ada lubang yang lumayan besar. Hampir seluruh jalan aspal di jalan tersebut diselimuti oleh lubang. Dengan tekhnik menghindari lubang yang saya pelajari saat itu juga dan dengan kemampuan seadanya, saya mengambil arah kanan (sangat kanan, sedang itu adalah jalur arah berlawanan). Disaat saya sedang sibuk dengan kegiatan menghindari lubang, tiba-tiba ada sebuah motor bermerek ninja melaju kencang dari arah yang berlawanan. Motor itu melaju sangat kencang, sampai-sampai saya tidak sempat menghindar, dan jelas tepat sekali motor gede tersebut akan segera menghantam motor saya. Jelas hanya pasrah yang bisa saya lakukan. Entah ada mukzizat apa, motor itu bisa menghindar (nyelip atau apa istilahnya), sehingga tidak ada musibah kecelakaan yang terjadi. Pada waktu itu juga, saya bersyukur dalam hati, karena tentu masih diberikan kesehatan fisik dan terhindar dari kematian. Tentu ini karena saya masih dilindungi oleh Maha Besar Allah SWT.
Pada dasarnya kita semua sadar bahwa didunia ini tidak ada sesuatu yang pasti kecuali kematian. Kita pasti mati meski kita tidak tahu kapan kematian itu menghampiri. Namun 1 hal yang tidak kita sadari, sebenarnya apa itu kehidupan, mengapa kita suka hidup dan apa itu kematian, mengapa kita takut mati.
Kehidupan itu ibarat sebuah pesta yang menyenangkan, sehingga tidak ada yang mau meninggalkan pesta tersebut. Sedangkan, kematian itu ibarat sebuah akhir dari segala pesta yang menyenangkan, akhir dari semua kebahagian dan akhir dari sebuah pencapaian hidup. Tapi benarkah itu?? Ternyata pikiran dan otak kita sudah terdoktrin untuk menyukai kehidupan. Dimana dengan hidup, kita bisa mencapai segalanya, cita-cita, kekayaan, kesuksesan, dsb. Dan kita terkontaminasi pikiran bahwa hidup cuma sekali, jadi harus benar-benar dinikmatin dengan segala kenikmatan dunia. Pernyataan tersebut tidak salah, kita memang hidup cuma sekali DI DUNIA, karena bukankah kita kelak akan menikmati kehidupan lain yaitu akhirat dan benar juga hidup harus dinikmatin, dinikmati dengan cara banyak bersyukur dan banyak beribadah untuk kehidupan yang selanjutnya. Dilain hal, sebenarnya kita sadar bahwa ketidaksiapan kita akan bekal yang akan dibawa ke akhirat lah yang membuat ketakutan atas kematian. Meninggalkan segala didunia hanyalah pikiran yang kita buat sendiri, namun ketakutan akan terlalu sedikitnya amal dan ibadah yang akan dibawa lah alasan sesungguhnya kita takut mati. Karena sesungguhnya kekekalan yang abadi adalah untuk mempertanggung jawabkan segala tingkah polahnya semasa hidup.
Kematian hanyalah istilah untuk membedakan hidup manusia dan hidup Tuhan. Hidup manusia adalah kehidupan yang dihidupi. Sedang hidup Tuhan adalah kehidupan yang menghidupi. Hidup manusia tanpa daya, sedang hidup Allah Maha Daya, Maha Kuat, dan dengan kasih sayang-Nya membelai hamba-hamba-Nya sehingga cukuplah daya manusia untuk bisa berjalan di muka bumi. Bersambung…